Kamis, 17 Januari 2013



EKONOMI DAN STRATEGI EKONOMI NASIONAL

Chusnul Abady

ABSTRAK

Dibandingkan dengan Korea dan Taiwan, kemampuan Indonesia untuk menyerap dan memanfaatkan teknologi impor masih lemah. Kemampuan teknologi yang rendah ini tecermin, salah satunya, dari rendahnya ekspor produk teknologi tinggi Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara ASIA lain. Ekspor produk teknologi tinggi adalah produk-produk dengan intensitas R & D (Research and Development) tinggi. Untuk meningkatkan daya saingnya, Indonesia memerlukan investasi ke dalam berbagai jenis kemampuan teknologi. Yang meliputi design, engineering, produksi, marketing, dan lain-lain.  Peningkatan kemampuan teknologi ini terutama penting untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, karena sejauh ini ekspor produk Indonesia sebagian besar terdiri dari produk intensif tenaga kerja berkeahlian rendah.

Kata kunci: ekonomi, strategi ekonomi, teknologi

ABSTRACT

Compared to Korea and Taiwan, Indonesia's ability to absorb and utilize imported technology is still weak. Low technological capabilities is reflected, among other things, of the lack of high-tech exports Indonesia compared with other ASIAN countries. Exports of high technology products are products with the intensity of R & D (Research and Development) high. To enhance its competitiveness, Indonesia needs to invest in different types of technological capabilities. Which includes design, engineering, production, marketing, and others. Improved technological capability is especially important to improve the competitiveness of Indonesian exports, as far Indonesia exports largely consist of skilled labor intensive products low.

Keywords: economy, economic strategy, technology

Kondisi Teknologi Indonesia
Sejak awal tahun 1990-an, para pembuat kebijakan dan ahli ekonomi Indonesia berpendapat bahwa Indonesia harus mengembangkan kemampuan teknologi sendiri, karena teknologi Indonesia pada umumnya tertinggal dan terbelakang.  Dibandingkan dengan Korea dan Taiwan, kemampuan Indonesia untuk menyerap dan memanfaatkan teknologi impor masih lemah. Kemampuan teknologi yang rendah ini tecermin, salah satunya, dari rendahnya ekspor produk teknologi tinggi Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara ASIA lain. Ekspor produk teknologi tinggi adalah produk-produk dengan intensitas R & D (Research and Development) tinggi.
Jumlah Ekspor Produk Teknologi Tinggi
Negara-Negara Asia, tahun 2010.
Negara
Ekspor Produk Teknologi Tinggi (US $)
Indonesia
   4,580
Malaysia
 47,042
Singapura
 71,421
Thailand
 18,203
China
107,543
Korea
 57,161
Sumber: World Bank: World Development Indicators.
Untuk meningkatkan daya saingnya, Indonesia memerlukan investasi ke dalam berbagai jenis kemampuan teknologi. Yang meliputi design, engineering, produksi, marketing, dan lain-lain.  Peningkatan kemampuan teknologi ini terutama penting untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, karena sejauh ini ekspor produk Indonesia sebagian besar terdiri dari produk intensif tenaga kerja berkeahlian rendah. Di sisi lainnya, pertumbuhan ekspor yang cepat dan berkelanjutan perlu peralihan dari produk, proses dan teknologi mudah, ke produk, proses dan teknologi kompleks.
Untuk mencapai perkembangan teknologi, Indonesia memerlukan beberaspa syarat sebagai berikut:
1.    Kebijakan makroekonomi yang tepat, karena inflasi yang rendah memungkinkan investasi jangka panjang kedalam perkembangan teknologi.
2.    Penerapan kebijakan persaingan, karena lingkungan yang kjompetitif mendorong perusahaan-perusahaan untuk cepat menerapkan
teknologi baru,
3.    Peningkatan kualitas sumber daya manusia, karena dasar sumber daya manusia adalah kunci untuk menerapkan, menggunakan dan mengembangkan teknologi.
Pengeluaran R &  D sebagai Prosentase dari GDP
di Negara-Negara Asia
Negara
Pengeluaran R & D  sebagai Prosentase dari GDP
Jepang (2002)
3.12
Korea (2002)
2.91
Taiwan (1999)
2.05
Singapura (2000)
1.09
China (2000)
1.00
Malaysia (2002)
0.69
Indonesia (2001)
0.05
Sumber: diproses dari OECD tentang indicator teknologi dan ilmu pengetahuan oleh PAPPIPTEK-LIPI
Data diatas menunjukkan secara jelas betapa jauh Indonesia tertinggal dalam R & D dibandingkan dengan Negara-negara Asia lain. Dengan kondisi seperti ini, satu-satunya pilihan bagi Indonesia untuk peningkatan teknologi adalah melalui FDI. Jika demikian, maka tantangan besar yang dihadapi pemerintah Indonesia saat ini adalah membenahi iklim investasi, yang saat sekarang dinilai sebagai salah satu yang terburuk diantara Negara-negara Asia. Pada tahap selanjutnya, ketika ekonomi telah pulih, Indonesia seharusnya tidak hanya mengandalkan pada FDI sebagai sumber teknologi baru, tetapi juga meningkatkan kemampuan teknologinya sendiri.
  
Strategi Teknologi Indonesia dibandingkan Negara-Negara Asia lain
Hanya beberapa Negara Asia yang berhasil melakukan transisi dari ‘negara sedang berkembang’ ke ‘negara maju’. Jepang melakukan ini pada paruh pertama abad ke 20. Empat Negara lain (Hong Kong, China, Korea, Singapura, dan Taiwan) berhasil melakukan ini pada paruh pertama abad 20.
Untuk mencapai kemajuan ini, Korea menggunakan strategi yang sama dengan Jepang. Seperti Jepang, Korea sedikit sekali mengandalkan FDI. Korea memperoleh sebagian besar teknologinya melalui perdagangan, peniruan, dan lisensi teknologi. Ketika Negara-negara yang melisensi teknologi merasa terancam, Korea mulai berinvestasi kedalam R & D  untuk mengembangkan teknologinya sendiri. Pemerintah Korea memiliki peranan kuat dalam kebijakan industry, menggunakan ekspor untuk mengukur performa industry. Hal ini juga memunculkan konglomerat industry besar yang dikenal dengan nama chaebol. 
Hong Kong menerapkan ekonomi laissez-faire dengan integrasi penuh kedalam system perdagangan global melalui persiapan yang matang. Bersama dengan Singapura, Hong Kong sadalah salah satu Negara yang paling bergantung pada perdagangan dan FDI untuk mendapat teknologi.
Singapura juga memiliki rezim perdagangan terbuka dan sangat bergantung pada FDI. Pemerintah Singapura memiliki peran yang aktif dan jauh lebih kuat daripada Hong Kong. Sementara bekerja dengan prinsip-prinsip pasar, pemerintah Singapuraberperan aktif menariuk investasi asing yang dianggap menunjang perkembangan ekonomi. Ekonomi Singapura merupakan transisi dari ekonomi intensdif tenaga kerja tidak terampil ke ekonomi yang berbasis pengetahuan.
Taiwan berada diantara kebijakan industry Korea dan perdagangan yang lebih terbuka tetapi diatur oleh pemerintah ala Singapura. Pemerintah Taiwan memiliki peran kuat dalam struktur industrinya. Sektor industrinya terdiri dari perusahaan-perusahaan kecil dan menengah.
Sementara itu, kelompok Asia kelas dua, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand memiliki strategi teknologi dan industry yang sama. Semua Negara ini berorientasi ekspor, meskipun Malaysia, Thailand dan Vietnam memiliki angka ekspor yang lebih besar daripada Indonesia. Ketiga Negara ini memiliki rasio investasi terhadap GDP yang lebih besar dartipada Indonesia. Di Malaysia dan Thailand, FDI memainkan peran yang lebih penting dalam pertumbuhan ekspor daripada 2 negara lainnya. Malaysia dan Thailand juga lebih maju daripada Indonesia dan Thailand dalam investasi R & D dan pendidikan tinggi. Malaysia mengalami industrialisasi yang paling tinggi dan memiliki ekspor produk teknologi yang paling besar.   

Ekonomi Politik Indonesia
Negara Indonesia memiliki kekhasan khusus, yang berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa sektor politik berdiri terpisah dari sektor-sektor lain.  Di Thailand, Jepang, Malaysia atau Korea kerusuhan politik tidak akan merembet ke ranah lain. Krisis politik di Thailand misalnya sejak kudeta militer yang memicu aksi protes kaos merah tidak mengganggu bisnis pariwisata dan iklim investasi. Tidak heran ketika di terpa krisis Asia tahun 1979, Thailand termasuk negara yang cepat pulih dari krisis, mengingat sektor-sektor lain tetap hidup dan dinamis karena tidak terkena dampak krisis yang berarti. Jepang malah mempunyai budaya institutional interlock, yang berarti bahwa reformasi di satu lembaga publik yang diperlukan untuk adaptasi terhadap perubahan akan secara otomatis diikuti oleh seluruh lembaga publik lain. Sementara Indonesia memiliki empat ciri khas. Pertama, kekakuan politik, kedua dominasi politik atas sektor lain,  ketiga kepura-puraan yang berbahaya dan keempat demokrasi semu. Apapun namanya apakah regulasi, reformasi, perubahan atau lainnya gaya politik Indonesia yang sentralistik, otoriter, militeristik, paternalistik, dan patronistik masih tetap bertahan. Meskipun semangat desentralistik telah ramai didengungkan dan dilaksanakan dan diperkuat dengan keberadaan undang-undangnya, dorongan sentralistik tidak pernah padam. Kondisi ini sungguh membahayakan, mengingat ekonomi di era globalisasi ditandai dengan turbulensi (penuh goncangan), yang potensial mengarah pada krisis. Jika krisis itu terlokalisir pada sektor ekonomi saja maka krisis itu dapat diatasi dalam waktu relatif cepat. Tetapi ketika sektor ekonomi yang dilanda krisis berkaitan dan jalin-menjalin dengan sektor politik atau dan hukum, maka penanganan dan pemulihannya bisa berlarut-larut. Krisis Indonesia tahun 1997 menunjukkan hal ini, dengan kerugian dana yang begitu besar. Jika kondisi ini tidak berubah, maka ancaman krisis multilevel tetap terbuka untuk Indonesia.

Strategi Ekonomi Indonesia
Globalisasi membuat semua negara masuk dalam satu sistem ekonomi, yaitu pasar bebas. Pemerintah tidak memiliki inovasi dan strategi yang jelas untuk menghadapi era bebas. Sehingga kemungkinan bangsa Indonesia tereksploitasi bangsa lain sangat terbuka. Sementara negara-negara lain menghadapi globalisasi dengan melakukan adaptasi yang berbasis kepentingan domestik. China, misalnya memadukan ideologi sosialisme dan liberalisme untuk bertahan dan memperoleh manfaat dari globalisasi. China, bersama dengan beberapa negara Arab, menjalankan strategi kapitalisme negara. Berbeda dengan kapitalisme Barat yang memberikan ruang besar bagi sektor swasta, kapitalisme negara menunjuk pada ekonomi yang dijalankan secara dominan oleh negara melalui perusahaan-perusahaan milik negara. Singapura adalah pendukung strategi clustering (kelompok) – menarik masuk seluruh segmen industry sehingga dapat berkembang secara mandiri di Singapura – dan memprioritaskan sector keuangan (finance) dan media. Untuk mencapai ini semua, Singapura mengubah dirinya menjadi laboratoriun ilmiah. Eropa bersatu membentuk Uni Eropa. Meskipun blok ini sedang bermasalah, ke depan bukan tidak mungkin blok ini menandingi kekuatan AS dan China. Jepang dan Korea berspesialisasi pada industri teknologi dan elektronik. Vietnam sekarang sedang mengembangkan diri sebagai negara industri beras.
Indonesia sekarang ini tengah mengarahkan dirinya pada globalisasi dan neoliberalisme. Berbeda dengan negara-negara lain yang melakukan persiapan matang atau meramu kebijakan untuk ‘berkelit’ dari gelombang globalisasi sehingga tidak menjadi korban tetapi justru mengambil manfaat optimal daripadanya, Indonesia melakukan ini tanpa persiapan, strategi dan kebijakan yang mendukung. Kondisi ini membuat Indonesia seolah menyerahkan diri untuk dimanfaatkan oleh kepentingan global. Maka Indonesia tidak lebih dari sekedar pasar, dan segala sumber daya yang dimiliki banyak dinikmati pihak asing.

DAFTAR PUSTAKA

The Economist. Rethingking the Next Welfare State: Asia’s Next Revolution. 8 September 2012. Vol. 404. No. 8801
Gilpin, Robert. Global Political Economy: Understanding The  International Economic Order. Princeton University Press. 2001.
Olson, Mancur. The Rise and Decline of Nations: Economic Growth, Stagflation, and Social Rigidities. Yale University Press. 1982
Palan, Ronen, Jason Abbott, dan Phil Deans.  A Cassell imprint. 1999

0 komentar:

Posting Komentar